Nikmat yang Sering Dilupakan

Manusia sejatinya telah diberi nikmat yang tak terhingga oleh Tuhan Sang Pencipta. Diantara begitu banyaknya nikmat, ada dua nikmat yang sering dilupakan, yaitu kesehatan dan waktu luang. Manusia sering dibuat lalai ketika sehat sehingga tidak menggunakannya untuk beribadah dan kebaikan. Setelah sakit baru sadar akan nikmatnya kesehatan. Juga waktu luang, banyak manusia yang menyia-nyiakannya. Padahal waktu sangat berharga dan tidak bisa kembali lagi.

Dari hadist yang diriwayatkan Ibnu Abbas, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Dua kenikmatan yang sering dilupkana oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang.” (HR. Imam Al-Bukhari).
Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari hadist di atas? Sedikitnya ada 6 (enam) yang bisa kita pelajari:
Pertama, anjuran untuk selalu mensyukuri segala nikmat Allah yang dikaruniakan kepada setiap manusia.
Kedua, larangan menggunakan waktu untuk hal-hal yang tercela dan sia-sia.
Ketiga, kebanyakan manusia seringkali tertipu dan terpedaya dengan nikmat kesehatan dan waktu luang. Karenanya, mereka menggunkannya untuk hal-hal yang tercela dan sia-sia, bukannya untuk beribadah dan hal-hal yang bermanfaat.
Kempat, sebenarnya nikmat kesehatan dan waktu luang adalah kenikmatan yang sangat besar dimana manusia seharusnya memanfaatkannya dengan baik. Sebagaimana disampaikan Rasulullah Saw, “Jagalah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sempitmu, dan masa hidupmu sebelum datang masa matimu.” (HR. Al-Hakim).
Kelima, Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Kenikmatan adalah keadaan yang baik. Ada yang mengatakan, kenikmatan adalah mamfaat yang dilakukan dengan bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain.”
Keenam, Ibnu Baththal berkata, “Makna hadist ini, bahwa seseorang tidaklah menjadi orang yang longgar (punya waktu luang) sehingga dia tercukupi (kebutuhannya) dan sehat badannya. Barangsiapa dua perkara itu ada padanya, hendaklah dia berusaha agar tidak tertipu, yaitu meninggalkan syukur kepada Allah terhadap nikmat yang Dia berikan padanya. Dan termasuk syukur kepada Allah adalah melaksankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-laranga-Nya. Barangsiapa melalaikan hal itu, maka dia adalah orang yang tertipu.”
Sumber : http://www.silaturahim.co.id

Sumber

Facebook Comments